semanarioangolense – Harga minyak Meroket pada perdagangan Rabu menjelang libur Thanksgiving di Amerika Serikat. Kenaikan terjadi ketika investor menilai risiko pasokan berlebih dan memantau negosiasi damai Rusia–Ukraina.
Harga Brent naik 65 sen atau 1,04% ke USD 63,13 per barel. Harga WTI menguat 70 sen atau 1,21% ke USD 58,65 pada penutupan. Data EIA menunjukkan stok minyak mentah AS naik 2,8 juta barel menjadi 426,9 juta barel. Angka ini jauh di atas proyeksi analis yang memperkirakan kenaikan 55.000 barel.
Impor minyak mentah AS melonjak 1,005 juta barel per hari. Total impor mencapai 2,84 juta barel per hari, yang merupakan level tertinggi sejak September 2025. Kenaikan ini memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi surplus pasokan dalam beberapa pekan mendatang.
Partner Again Capital, John Kilduff, menilai pasar berada di jalur surplus yang jelas. Ia menyebut peningkatan stok sebagai sinyal kuat kondisi pasokan. Data Baker Hughes menunjukkan jumlah rig minyak dan gas turun untuk pertama kalinya dalam empat minggu.
Tiga sumber OPEC+ mengatakan aliansi produsen kemungkinan mempertahankan produksi pada pertemuan Minggu. Keputusan ini dapat memperpanjang tekanan pada harga jika permintaan tidak menguat.
Investor menantikan perkembangan negosiasi Rusia dan Ukraina. Presiden Zelenskiy menyatakan kesediaan mempercepat kerangka perdamaian yang didukung AS. Pernyataan ini sebelumnya menekan harga minyak ke level terendah dalam satu bulan.
Presiden AS Donald Trump menginstruksikan perwakilannya bertemu dengan pemimpin Rusia dan Ukraina. Pejabat Ukraina menyebut Zelenskiy mungkin akan mengunjungi AS untuk memfinalkan kesepakatan. Analis IG, Tony Sycamore, memperkirakan WTI bisa turun ke USD 55 jika sanksi dicabut.
Konsorsium Pipa Kaspia melanjutkan pemuatan setelah serangan drone Ukraina. Langkah ini menambah pasokan global dan menekan sentimen pasar.
Baca Juga : “Pengusaha Ungkap Fakta Baru Kasus Beras Impor Ilegal“
Harga Minyak Meroket Setelah Laporan Ukraina Setujui Kerangka Damai
Harga Minyak Meroket kembali menjadi perhatian pelaku pasar akibat volatilitas yang meningkat pada perdagangan Selasa. Sentimen berubah cepat setelah laporan media AS menyebut Ukraina menyetujui kerangka kesepakatan damai, sehingga memicu aksi jual di pasar energi.
Brent turun 89 sen atau 1,4% ke USD 62,48 per barel, sedangkan WTI turun 1,51% ke USD 57,95. Penurunan ini muncul setelah ABC News dan CBS News mengutip pejabat AS yang mengatakan bahwa Ukraina menerima persyaratan awal kerangka perdamaian. Sementara itu, Reuters melaporkan bahwa Kyiv mendukung inti kerangka tersebut, namun beberapa isu sensitif masih harus dinegosiasikan langsung antara kedua presiden.
Kepala Dewan Keamanan Ukraina, Rustem Umerov, menyebut Presiden Volodymyr Zelenskiy dapat mengunjungi AS untuk memfinalkan pembahasan bersama Presiden Donald Trump. Meski begitu, analis UBS Giovanni Staunovo menilai proses damai belum berada pada tahap akhir. Ia menegaskan bahwa belum jelas apakah Rusia juga setuju dengan kerangka yang dibicarakan.
Jika kesepakatan tercapai, pencabutan sanksi Barat terhadap Rusia dapat membuka kembali akses ekspor energi Moskow. Karena itu, pasokan global berpotensi meningkat, yang bisa menekan harga minyak lebih jauh. Di sisi lain, kedua harga patokan sempat naik 1,3% pada Senin karena keraguan pasar terkait kecepatan proses kesepakatan. Kondisi ini membuat Harga Minyak Meroket di awal pekan sebelum kembali melemah pada perdagangan berikutnya.
Pasar kini menunggu konfirmasi resmi dari Ukraina, AS, dan Rusia. Kejelasan posisi Moskow akan menjadi faktor penentu arah harga dalam waktu dekat.
Baca Juga : “Penggelapan Pajak Naik, Ratusan Perusahaan Terlibat“




Leave a Reply