semanarioangolense – Misi Apollo 7 mencatat keberhasilan besar bagi program luar angkasa Amerika Serikat. Setelah 11 hari mengorbit Bumi sejauh 4,5 juta mil, pesawat ruang angkasa ini mendarat dengan aman di Samudra Atlantik pada 22 Oktober 1968. Pendaratan dilakukan sekitar 325 mil selatan Bermuda pukul 07.11 pagi waktu setempat, menandai berakhirnya penerbangan uji coba pertama berawak sejak tragedi Apollo 1 pada 1967.
Selama 260 jam penerbangan, tiga astronaut—Walter Schirra, Donn Eisele, dan Walter Cunningham—melakukan serangkaian pengujian penting terhadap sistem pesawat. Mereka menguji kemampuan manuver, keandalan sistem komunikasi, serta daya tahan modul komando. Delapan kali penyalaan mesin roket dilakukan untuk memastikan pesawat mampu melakukan koreksi orbit dengan presisi tinggi. Misi ini juga mencakup uji pertemuan dengan objek lain di orbit untuk mempersiapkan tahap docking dalam misi berikutnya.
Presiden Lyndon B. Johnson secara langsung menghubungi kru Apollo 7 untuk menyampaikan ucapan selamat atas keberhasilan misi tersebut. “Penerbangan ini menjadi tonggak penting menuju pendaratan manusia pertama di Bulan,” ujar Johnson, seperti dikutip dari The New York Times. Kapten Walter Schirra juga menyampaikan rasa bangganya kepada tim NASA di kapal induk U.S.S. Essex. “Senang rasanya bisa kembali, dan misi ini berjalan dengan sangat baik,” katanya.
Keberhasilan Apollo 7 membuka jalan bagi misi Apollo 8 yang kemudian mengorbit Bulan pada Desember 1968. Hasil uji ini menegaskan kesiapan teknologi Amerika Serikat dalam mewujudkan ambisi besar: menempatkan manusia di permukaan Bulan.
Baca Juga: “Menkeu Purbaya Tambah Dana LPDP Sesuai Arahan Prabowo“
Proses Pendaratan Apollo 7: Tantangan Teknis dan Keberhasilan di Samudra Atlantik
Menjelang akhir misinya, para astronaut Apollo 7 menghadapi momen paling menegangkan dalam penerbangan luar angkasa berawak pertama pasca-Apollo 1. Kapten Walter M. Schirra Jr., Mayor Donn F. Eisele, dan Walter Cunningham mulai merasa cemas saat pesawat mencapai ketinggian sekitar 270.000 kaki. Sebelum memulai proses pendaratan yang berlangsung sekitar 29 menit, mereka memeriksa semua sistem penting di pesawat untuk memastikan operasi berjalan aman dan terkendali.
Tim melakukan pengecekan pada sistem navigasi, komputer, tenaga listrik, dan propulsi. Mereka juga mengamankan seluruh perlengkapan di kabin, termasuk helm yang tidak digunakan. Ketika pesawat mulai memasuki atmosfer, perubahan tekanan udara yang drastis memaksa mereka menutup hidung dan telinga untuk mencegah cedera pada sinus dan gendang telinga.
Pemandu otomatis kemudian mengaktifkan mesin dengan daya dorong 20.500 pon dalam tahap “de-boost” untuk memperlambat pesawat keluar dari orbit. Kecepatan Apollo 7 mencapai sekitar 16.675 mil per jam, menciptakan gesekan hebat di atmosfer yang tampak seperti bola api. Pada pukul 06.59 pagi waktu Florida, pesawat menembus lapisan atmosfer padat di ketinggian 240.000 kaki.
Sekitar satu menit kemudian, di ketinggian 10.000 kaki, tiga parasut kecil terbuka untuk menurunkan kecepatan dari 139 mil per jam menjadi sekitar 22 mil per jam. Dengan berat sekitar 11.700 pon, kapsul akhirnya mendarat di perairan Atlantik yang berombak. Pendaratan aman ini menjadi bukti keberhasilan sistem kendali NASA sekaligus memperkuat keyakinan terhadap kesiapan misi berikutnya menuju Bulan.
Baca Juga: “Cek Kesehatan Gratis 46 Juta Warga, Satu Tahun Prabowo-Gibran“




Leave a Reply