semanarioangolense – Thailand Luncurkan Serangan udara terarah di wilayah perbatasan yang disengketakan dengan Kamboja. Serangan ini muncul setelah kedua negara saling menuduh melanggar perjanjian gencatan senjata yang berlaku sejak beberapa tahun lalu.
Militer Thailand menyebutkan bahwa bentrokan kembali meningkat sejak Minggu. Kontak senjata terjadi hingga Senin dini hari di Distrik Nam Yuen, Provinsi Ubon Ratchathani. Pasukan Kamboja disebut melepaskan tembakan ringan dan tidak langsung pada pukul 05.05. Pasukan Thailand merespons dengan tembakan balasan yang mengikuti aturan pelibatan yang berlaku.
Mayor Jenderal Winthai Suvaree mengatakan bahwa Thailand mengerahkan aset udara untuk menekan serangan yang mengancam wilayahnya. Angkatan Udara Thailand menegaskan bahwa serangan hanya menyasar instalasi militer di dalam wilayah Kamboja. Target meliputi pusat komando, gudang senjata, dan jalur logistik yang dianggap sebagai ancaman langsung.
Kementerian Pertahanan Kamboja menyampaikan pernyataan berbeda. Juru bicaranya, Maly Socheata, menyebut serangan Thailand terjadi di Preah Vihear dan Oddar Meanchey. Ia menyatakan bahwa Kamboja tidak melakukan pembalasan. Ia juga menuduh Thailand melakukan provokasi selama beberapa hari untuk memicu konfrontasi.
Laporan resmi menyebutkan satu tentara Thailand tewas dan empat lainnya terluka akibat tembakan bantuan dari pihak Kamboja. Pemerintah Thailand telah menyiapkan dukungan evakuasi bagi warga sipil di daerah terdampak.
Insiden ini meningkatkan kekhawatiran regional. Wilayah perbatasan Thailand dan Kamboja pernah menjadi lokasi konflik serupa pada 2011. Pengamat menilai bahwa ketegangan ini dapat memengaruhi stabilitas ASEAN jika tidak segera diredakan melalui diplomasi. Pemerintah kedua negara diperkirakan akan menghadapi tekanan internasional untuk menghentikan eskalasi.
Baca Juga : “Tren Cantik Baru yang Mendorong Perawatan Lebih Sederhana“
Thailand Luncurkan Serangan : Konflik Perbatasan Thailand–Kamboja Kembali Memanas Setelah Gencatan Senjata Runtuh
Sengketa perbatasan Thailand dan Kamboja kembali berubah menjadi ketegangan bersenjata. Konflik terbaru ini muncul setelah Thailand menghentikan pelaksanaan pakta gencatan senjata akibat ledakan ranjau yang melukai parah seorang tentaranya bulan lalu.
Bentrokan berskala besar sebelumnya terjadi pada Juli. Pertempuran berlangsung selama lima hari dan menewaskan sedikitnya 48 orang. Sekitar 300.000 warga juga terpaksa mengungsi akibat tembakan roket dan artileri dari kedua negara. Krisis ini mereda setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menengahi kesepakatan gencatan senjata di Kuala Lumpur pada Oktober. Trump bahkan menyaksikan penandatanganan gencatan senjata yang diperluas tersebut.
Ketegangan kembali meningkat setelah insiden ranjau terjadi. Militer Thailand mengungkapkan bahwa lebih dari 385.000 warga sipil di empat distrik perbatasan harus dievakuasi. Sekitar 35.000 di antaranya telah dipindahkan ke tempat penampungan yang disiapkan pemerintah. Langkah evakuasi ini mencerminkan tingginya ancaman bagi warga di sepanjang garis pertempuran.
Sengketa perbatasan kedua negara memiliki akar sejarah panjang. Jalur sepanjang 817 km pertama kali dipetakan Prancis pada 1907 ketika menjajah Kamboja. Penetapan batas yang tidak tuntas telah memicu klaim tumpang tindih selama lebih dari satu abad. Ketegangan serupa juga terjadi pada 2011 saat bentrokan artileri berlangsung selama sepekan.
Situasi terbaru ini menimbulkan kekhawatiran regional. Pengamat menilai bahwa konflik dapat membesar jika tidak ada jalur diplomasi yang diaktifkan kembali. Komunitas internasional diperkirakan akan menekan kedua negara untuk kembali ke meja negosiasi dan mencegah krisis kemanusiaan yang lebih luas.
Baca Juga : “Netflix resmi mengakuisisi Warner Bros Rp 1.201 Triliun“




Leave a Reply