semanarioangolense – Pada 19 Oktober 1943, dunia medis mencatat momen penting ketika Albert Schatz, mahasiswa pascasarjana Rutgers University, menemukan antibiotik baru bernama streptomisin. Penemuan ini menjadi tonggak besar karena untuk pertama kalinya, penyakit tuberkulosis (TBC) memiliki obat yang benar-benar efektif. Sebelum streptomisin hadir, TBC menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia tanpa pengobatan yang memadai.
Schatz melakukan risetnya secara mandiri di laboratorium bawah tanah universitas. Ia meneliti mikroorganisme yang hidup di tanah dan kultur darah, mencari zat yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri penyebab TBC. Dari proses isolasi dua strain bakteri tanah, Streptomyces griseus, lahirlah senyawa streptomisin yang kemudian diuji dan terbukti membunuh kuman TBC.
“Saya bekerja siang dan malam, sering tidur di laboratorium,” tulis Schatz dalam refleksi 50 tahun penemuan streptomisin, seperti dikutip dari BBC (19/10/2025). Dedikasinya membuahkan hasil yang mengubah arah pengobatan modern, membuka jalan bagi pengembangan antibiotik lain yang menyelamatkan jutaan jiwa.
Namun, penemuan ini juga memunculkan kontroversi. Selman Waksman, kepala departemen tempat Schatz bekerja, kemudian diakui publik sebagai penemu utama streptomisin dan menerima Hadiah Nobel pada 1952. Meski begitu, komunitas ilmiah kini lebih mengakui kontribusi besar Schatz dalam riset tersebut.
Penemuan streptomisin tidak hanya menjadi dasar pengobatan TBC, tetapi juga membuka babak baru dalam era antibiotik modern. Hingga kini, riset terhadap resistansi antibiotik terus dikembangkan untuk menghadapi ancaman bakteri yang kian kebal terhadap obat-obatan lama.
Baca Juga : “Penelitian Pada Kucing Kenal Bau Pemiliknya Meski Bersikap Cuek”
Kontroversi di Balik Penemuan Streptomisin dan Awal Era Keemasan Antibiotik
Penemuan streptomisin tidak hanya menjadi terobosan medis, tetapi juga memunculkan kontroversi besar di dunia ilmiah. Setelah antibiotik tersebut terbukti efektif melawan tuberkulosis, Selman Waksman, kepala laboratorium Rutgers University, menerima Hadiah Nobel Fisiologi atau Kedokteran pada 1952 atas penemuan itu. Namun, Albert Schatz, peneliti muda yang menemukan streptomisin di laboratorium bawah tanah, menolak pengakuan tersebut.
Schatz menegaskan bahwa penelitian dilakukan sepenuhnya secara mandiri sebelum Waksman terlibat. “Saya benar-benar hidup di dalam penemuan ini,” tulisnya dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari arsip Rutgers University. Ia merasa bahwa kontribusinya dihapus dari sejarah resmi meski seluruh riset awal merupakan hasil kerjanya sendiri.
Perselisihan ini akhirnya berujung di pengadilan. Pada 1950, Pengadilan New Jersey memutuskan bahwa Schatz adalah penemu bersama streptomisin. Putusan ini memperbaiki sebagian besar ketidakadilan yang ia alami, meski nama Waksman tetap lebih dikenal publik dan tercatat sebagai penerima Nobel.
Setelah perselisihan berakhir, streptomisin segera diproduksi massal dan menjadi obat penyelamat jutaan nyawa di seluruh dunia. Obat ini menjadi dasar pengobatan standar tuberkulosis dan mendorong penelitian terhadap antibiotik baru seperti tetrasiklin, eritromisin, dan kloramfenikol.
Penemuan streptomisin menandai dimulainya era keemasan antibiotik, masa ketika mikroba tanah yang dahulu dianggap sepele justru menjadi sumber obat-obatan penting. Hingga kini, semangat penelitian Albert Schatz menjadi simbol penting bagi ilmuwan muda: bahwa penemuan besar sering lahir dari ketekunan dan rasa ingin tahu yang mendalam.
Baca Juga : “Infografis Terbaru Ungkap Ragam Bumbu Soto Khas Nusantara”




Leave a Reply