semanarioangolense – Gangguan kecemasan atau anxiety disorder muncul sebagai respons mental yang berlebihan dan sulit dikendalikan. Kondisi ini tidak hanya menyebabkan rasa takut, tetapi juga mengganggu aktivitas harian penderitanya. Pada peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025, dokter spesialis kedokteran jiwa Zulvia Oktanida Syarif dari RS Pondok Indah Jakarta menyoroti kompleksitas penyebab gangguan ini.
Ahli kesehatan jiwa belum menemukan penyebab pasti gangguan kecemasan. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa faktor genetik, lingkungan, serta perubahan senyawa di otak berperan besar. Kondisi ini biasanya muncul pada individu yang memiliki kerentanan tertentu dan dipicu oleh pengalaman traumatis.
“Perubahan keseimbangan senyawa di otak bisa terjadi karena akumulasi stres yang tidak ditangani dengan tepat,” ujar Vivi. Menurutnya, gangguan pada pengaturan rasa takut dan emosi dapat berkembang menjadi anxiety disorder, terutama jika dialami oleh mereka dengan faktor risiko.
Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari 300 juta orang di dunia hidup dengan gangguan kecemasan. Banyak kasus tidak terdiagnosis karena gejalanya dianggap bagian dari stres biasa. Padahal, tanpa penanganan, kondisi ini bisa memicu depresi, insomnia, hingga penurunan kualitas hidup.
Ke depan, edukasi kesehatan mental dan deteksi dini menjadi langkah penting. Pendekatan berbasis psikoterapi, gaya hidup sehat, serta dukungan lingkungan dinilai efektif menurunkan dampaknya. Dengan memahami pemicunya, masyarakat dapat lebih waspada dan mencari bantuan sejak dini.
Baca Juga : “Pemerintah Terbitkan Aturan Baru Kenaikan Pangkat PNS 2025”
Faktor Risiko Anxiety Disorder dan Dampaknya terhadap Kehidupan Penderita
Risiko mengalami anxiety disorder dipengaruhi berbagai faktor yang saling berkaitan. Kondisi ini dapat muncul sejak usia muda maupun dewasa, tergantung pengalaman hidup dan respons tubuh terhadap stres.
Dokter Zulvia Oktanida Syarif atau Vivi menjelaskan beberapa faktor yang meningkatkan risiko gangguan kecemasan. Pengalaman negatif yang memicu stres atau trauma psikologis merupakan pemicu yang paling umum. Individu dengan kepribadian pemalu atau yang sering dibatasi dalam mengekspresikan diri juga lebih rentan.
Vivi menambahkan bahwa gangguan kepribadian dan efek samping dari zat tertentu, seperti kafein atau narkoba, dapat memperparah kondisi. Penyakit fisik seperti gangguan irama jantung dan masalah tiroid juga berkontribusi pada munculnya kecemasan berlebih.
“Wanita tercatat lebih banyak mengalami anxiety disorder, meskipun penyebab pastinya belum diketahui,” kata Vivi. Ia menjelaskan bahwa perubahan hormon dan kesenjangan akses kesehatan dalam beberapa budaya bisa memperberat kondisi kecemasan pada perempuan.
Penderita gangguan kecemasan cenderung menghindari situasi yang memicu rasa takut. Vivi menyebut perilaku ini sebagai mekanisme pertahanan diri. Namun kebiasaan tersebut dapat membatasi potensi diri dan menghambat interaksi sosial.
“Akibatnya, penderita anxiety disorder tidak dapat beraktivitas secara maksimal atau menjalin hubungan sosial yang sehat,” ujarnya. Jika tidak ditangani, gangguan kecemasan bisa berkembang menjadi depresi yang menurunkan kualitas hidup.
Ke depan, edukasi, deteksi dini, dan layanan kesehatan mental yang inklusif menjadi kunci pencegahan. Dukungan keluarga dan akses terapi profesional dapat membantu penderita mengelola kecemasan sebelum timbul komplikasi.
Baca Juga : “Para Ahli Jelaskan Dampak Stres pada Penurunan Berat Badan”




Leave a Reply