Faktor Baru Penyebab Depresi pada Lansia Terungkap

Faktor Depresi Lansia dan Dampaknya pada Kesehatan Mental

semanarioangolense – Faktor depresi lansia kini menjadi perhatian serius di Jakarta. Jumlah penduduk lanjut usia terus meningkat, sehingga risiko gangguan mental ikut bertambah. Kondisi ini menuntut perhatian dari keluarga, tenaga kesehatan, dan pemerintah.

Dinas Kesehatan DKI Jakarta menyebutkan bahwa faktor fisik menjadi pemicu utama depresi pada lansia. Penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, dan gangguan sendi sering menurunkan kualitas hidup mereka. Aktivitas yang terbatas membuat lansia merasa tidak berdaya dan kehilangan kemandirian. Selain itu, perubahan lingkungan dan berkurangnya peran sosial menambah tekanan psikologis.

Plt Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes DKI Jakarta, Sri Puji Wahyuni, menegaskan bahwa depresi dapat muncul dari berbagai kondisi yang dialami sehari-hari. Ia menjelaskan bahwa penyakit fisik, keterbatasan gerak, dan rasa ditinggalkan menjadi penyebab umum. “Dari penyakit fisiknya bisa menyebabkan depresi juga, keterbatasan fisik, dia di rumah, ditinggal itu juga bisa depresi,” jelasnya.

Demensia juga menjadi faktor signifikan yang memperburuk kondisi mental lansia. Penurunan fungsi kognitif membuat mereka sulit beradaptasi dengan perubahan. “Selain karena penyakit fisik, penyebab lainnya, yaitu sebagian dari mereka mulai mengalami demensia,” tambah Sri Puji. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa prevalensi depresi pada usia di atas 60 tahun dapat mencapai lebih dari 15 persen.

Ke depan, layanan kesehatan jiwa bagi lansia perlu diperluas dengan pendekatan keluarga dan komunitas. Edukasi tentang deteksi dini dan dukungan emosional menjadi kunci pencegahan. Pemerintah daerah juga didorong memperkuat fasilitas kesehatan ramah lansia agar kualitas hidup mereka tetap terjaga.

Baca Juga : “Anxiety Disorder Kini Banyak Dialami Orang Pemalu

Faktor dan Gejala Depresi pada Lansia yang Perlu Diwaspadai

Depresi pada lansia bukan hanya masalah psikologis, tetapi kondisi serius yang dapat memengaruhi kualitas hidup. Bertambahnya usia sering disertai perubahan fisik, sosial, dan emosional yang meningkatkan risiko depresi.

Beberapa faktor utama menjadi pemicu depresi pada kelompok usia lanjut. Penyakit kronis dan keterbatasan fisik membuat lansia kehilangan kemandirian dan kepercayaan diri. Kondisi seperti stroke, diabetes, atau gangguan sendi menjadi penyebab umum. Demensia juga berperan besar karena penurunan fungsi kognitif menghambat interaksi dan pemahaman lingkungan.

Sri Puji Wahyuni dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta menjelaskan bahwa faktor sosial turut memperburuk kondisi mental. Konflik dengan keluarga dapat menciptakan tekanan emosional yang memicu depresi. Kesepian menjadi tantangan lain karena banyak lansia kehilangan teman sebaya atau tidak tinggal bersama keluarga. “Depresi, sambung dia, dapat ditandai dengan kesedihan berkepanjangan, kehilangan minat serta gejala fisik, seperti gangguan tidur dan nafsu makan,” ujarnya.

Gejala depresi sering muncul secara perlahan dan tidak selalu disadari keluarga. Lansia dapat mengalami perubahan perilaku, menarik diri dari aktivitas, atau mengeluh sakit tanpa penyebab jelas. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan sekitar 7 persen populasi lansia di dunia mengalami depresi.

Upaya pencegahan membutuhkan dukungan keluarga, pemeriksaan kesehatan rutin, dan akses layanan psikologis. Edukasi mengenai deteksi dini sangat penting agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat. Ke depan, integrasi layanan kesehatan jiwa dalam fasilitas lansia dapat membantu mengurangi risiko depresi dan meningkatkan kesejahteraan mereka.

Baca Juga : “Para Ahli Jelaskan Dampak Stres pada Penurunan Berat Badan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *