semanarioangolense – Menu MBG Sukabumi Diprotes sejumlah orang tua siswa di Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, menyampaikan protes terkait menu program Makan Bergizi Gratis (MBG). Mereka menilai sajian seperti tahu bulat dan jeli terlalu sederhana dibandingkan dengan anggaran pemerintah.
Salah satu orang tua berinisial A menilai menu tersebut tidak sesuai dengan nilai dana yang dikucurkan. Ia menilai hidangan tahu bulat dan jeli terlalu sederhana untuk sebuah program nasional. Menurutnya, biaya yang dikeluarkan semestinya mampu memberikan variasi makanan lebih baik untuk anak-anak.
Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dapur 99 Patuguran Yayasan Generasi Kabupaten Sukabumi, Pajar Nugraha, memberikan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa tujuan utama MBG adalah pemenuhan kebutuhan gizi siswa, bukan menyajikan makanan mewah. “Ini adalah program menu bergizi gratis. Fokusnya pada kadar gizi, bukan kemewahan. Menurut saya, menu tersebut sudah sesuai,” ungkap Pajar.
Program MBG sendiri merupakan salah satu agenda nasional pemerintah untuk meningkatkan asupan gizi siswa. Menurut data Kementerian Kesehatan, satu dari lima anak Indonesia masih mengalami stunting. Dengan demikian, program ini diharapkan dapat membantu menekan angka gizi buruk.
Meski mendapat kritik, pemerintah daerah menekankan bahwa standar gizi tetap menjadi prioritas. Ke depan, variasi menu kemungkinan akan dievaluasi agar lebih sesuai dengan harapan masyarakat. Program ini juga akan terus dipantau agar manfaatnya tepat sasaran bagi anak-anak sekolah.
Baca Juga: “Program MBG: Evaluasi SOP dan Pengawasan Jadi Isu Baru MBG“
Menu MBG Sukabumi: SPPG Dapur 99 Patuguran Distribusikan 3.725 Porsi MBG Setiap Hari
SPPG Dapur 99 Patuguran Yayasan Generasi menyiapkan 3.725 porsi makanan per hari untuk sepuluh sekolah di Sukabumi. Sekolah tersebut terdiri dari SD, TK, PAUD, dan SMP.
Proses memasak dimulai sejak pukul 12 malam agar makanan siap didistribusikan tepat waktu. Pajar Nugraha, Kepala SPPG, menekankan jarak distribusi tidak boleh lebih dari enam kilometer. Waktu pengiriman maksimal hanya 20 menit untuk menjaga kualitas dan kesegaran makanan.
“Standar saat ini, pukul 3 dini hari sudah dilakukan pemorsian, karena kami harus memproses dan mendistribusikan sebanyak 3.725 porsi,” jelas Pajar. Hal ini dilakukan agar setiap porsi tetap aman dikonsumsi siswa sesuai standar gizi.
Pajar juga mengingatkan pentingnya waktu konsumsi makanan setelah distribusi. Makanan sebaiknya dikonsumsi maksimal enam jam setelah diterima. Ia menekankan agar tidak menggunakan wadah baja tahan karat saat makanan masih panas. “Panas akan mempercepat pembusukan protein, sehingga kualitas gizi bisa menurun,” tambahnya.
Program MBG sendiri bertujuan menekan angka stunting dan kekurangan gizi pada anak. Menurut data Kementerian Kesehatan, sekitar 21,6% anak di Jawa Barat masih mengalami stunting. Distribusi tepat waktu dan pemrosesan yang higienis menjadi kunci keberhasilan program.
Ke depan, SPPG akan terus memantau standar pengolahan dan distribusi. Evaluasi rutin dilakukan agar setiap anak menerima makanan bergizi, aman, dan layak konsumsi setiap hari sekolah. Program ini diharapkan tetap efektif dan dapat menjadi model bagi daerah lain.
Baca juga: “TikTok Dibekukan Karena Gagal Penuhi Permintaan Data Kominfo“




Leave a Reply