semanarioangolense.net – Ahli gizi dari Asosiasi Ahli Gizi Olahraga Indonesia (ISNA), Dr. Rita Ramayulis, menekankan bahwa susu tidak boleh menggantikan makanan utama anak. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara dengan ANTARA di Jakarta, Jumat.
Dr. Rita menjelaskan, susu sebaiknya dikonsumsi sebagai bagian dari makan lengkap atau sebagai makanan selingan. “Kalaupun anak menyukai susu, orang tua tetap harus memastikan makan utama tetap dikonsumsi,” ujarnya.
Peran Susu dalam Pola Makan Anak
Menurut Dr. Rita, susu berfungsi melengkapi makanan utama karena memberikan protein dan kalsium. Namun, jika anak hanya mengonsumsi susu, risiko kekurangan gizi meningkat, terutama pada karbohidrat kompleks dan serat.
“Tidak ada seratnya, dan keseimbangan karbohidrat, protein, lemak, serta mikronutrien tidak tercipta bila hanya minum susu,” tambahnya. Ia juga menekankan bahwa proses pencernaan anak kurang optimal bila hanya menerima makanan cair.
Data dari Kementerian Kesehatan Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 35 persen anak usia sekolah tidak memenuhi asupan gizi seimbang. Pola makan yang menggantung pada susu dapat memperburuk kondisi ini.
Masa Penting Pembentukan Kebiasaan Makan
Dr. Rita menekankan pentingnya masa anak-anak sebagai periode pembelajaran kebiasaan makan yang sehat. “Anak-anak sedang belajar memilih dan mengatur makanan, sehingga peran orang tua sangat penting,” katanya.
Orang tua disarankan untuk menyusun menu bersama anak, memodifikasi hidangan agar sesuai selera namun tetap bernilai gizi tinggi. Contohnya, jika anak kurang makan siang, susu dapat diberikan sebagai pelengkap, bukan pengganti.
“Berikan makan utama terlebih dahulu. Kemudian, susu bisa melengkapi kebutuhan kalsium dan protein, misalnya bersama buah atau sayur,” jelas ahli gizi lulusan Universitas Indonesia tersebut.
Risiko Jika Susu Menggantikan Makanan Utama
Menggantikan makanan utama dengan susu dapat menimbulkan beberapa masalah:
- Kekurangan karbohidrat kompleks, penting untuk energi.
- Kurangnya serat yang mendukung kesehatan pencernaan.
- Tidak terpenuhinya keseimbangan nutrisi makro dan mikro.
- Gangguan pertumbuhan optimal jika kebiasaan berlangsung lama.
Dr. Rita menekankan bahwa meskipun susu bergizi, ia tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi lengkap anak. Orang tua perlu mengawasi agar anak tetap mengonsumsi makanan utama seperti nasi, lauk, sayur, dan buah.
Strategi Praktis Orang Tua
Beberapa strategi yang disarankan ahli gizi untuk memastikan pola makan sehat anak:
- Menu bersama anak: Libatkan anak dalam memilih hidangan agar mereka lebih tertarik makan utama.
- Modifikasi hidangan: Sesuaikan rasa atau bentuk makanan agar lebih menarik.
- Porsi seimbang: Pastikan porsi karbohidrat, protein, lemak, dan sayur cukup sebelum memberikan susu.
- Selingan bergizi: Susu, buah, atau camilan sehat bisa melengkapi, bukan menggantikan makanan utama.
Langkah-langkah ini membantu anak membangun kebiasaan makan seimbang dan mengurangi risiko kekurangan gizi di masa pertumbuhan.
Kesimpulan dan Pandangan ke Depan
Ahli gizi menegaskan, susu tetap penting bagi anak, tetapi tidak boleh menjadi pengganti makan utama. Peran orang tua sangat vital untuk mengajarkan pola makan sehat sejak dini.
Dengan strategi yang tepat, anak tetap bisa menikmati susu sambil memenuhi kebutuhan nutrisi lengkap. Masa kanak-kanak yang sehat akan mendorong pertumbuhan optimal, daya tahan tubuh kuat, dan kebiasaan makan baik hingga dewasa.




Leave a Reply