semanarioangolense – Waspadai Anak Demam Rematik, Demam sering terjadi pada anak dan biasanya bukan hal berbahaya. Namun, jika demam bertahan lama meski sudah minum obat, orangtua perlu waspada terhadap kemungkinan demam rematik. Kondisi ini umumnya muncul setelah infeksi tenggorokan yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus grup A.
Demam rematik ditandai suhu tubuh tinggi yang tidak turun lebih dari dua hari, meski sudah diberikan obat penurun panas biasa. Anak juga dapat mengalami nyeri atau bengkak pada sendi, kelelahan berlebih, serta perubahan fungsi jantung. Bila gejala ini muncul, segera konsultasikan ke dokter anak agar penanganan bisa dilakukan sejak dini.
Menurut dr. Rizky Adriansyah, M.Ked(Ped), Sp.A, Subsp.Kardio(K) dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), demam yang masih bisa turun biasanya bukan demam rematik. “Kalau demamnya masih rendah atau turun-turun, itu demam biasa yang dapat diatasi dengan perawatan rumahan,” ujarnya dalam temu media di Jakarta, 10 November 2025.
Rizky menegaskan, infeksi tenggorokan yang diabaikan dapat berkembang menjadi penyakit jantung rematik, yaitu kondisi serius yang menyerang katup jantung. Data Kementerian Kesehatan 2024 menunjukkan, sekitar 20% kasus penyakit jantung pada anak di Indonesia berkaitan dengan riwayat demam rematik yang tidak ditangani tepat waktu.
Orangtua disarankan mencatat durasi dan suhu demam anak, serta memerhatikan gejala tambahan seperti sesak napas atau nyeri sendi berpindah. Pemeriksaan dini ke fasilitas kesehatan dapat membantu mencegah komplikasi jangka panjang.
Dengan mengenali tanda awal demam rematik, orangtua dapat mengambil langkah cepat untuk melindungi kesehatan jantung anak di masa depan.
Baca Juga: “Dokter Peringatkan Bahaya Hentikan Antibiotik Terlalu Cepat“
Waspadai Anak Demam, Pemeriksaan Penting Saat Anak Alami Demam Rematik yang Tak Kunjung Turun
Ketika anak mengalami demam tinggi yang tak kunjung turun, orangtua tidak boleh menunggu terlalu lama. Langkah cepat dengan membawa anak ke dokter sangat penting untuk mencegah komplikasi serius seperti penyakit jantung rematik.
Dokter anak Rizky Adriansyah, M.Ked(Ped), Sp.A, Subsp.Kardio(K) menegaskan pentingnya pemeriksaan segera. “Jika demam tinggi bertahan lebih dari dua hari dan obat penurun panas biasa tidak membantu, itu tanda anak perlu pemeriksaan lebih lanjut,” ujarnya.
Pemeriksaan yang dilakukan meliputi tes darah, evaluasi jantung, dan pemeriksaan sendi. Tes darah membantu mendeteksi peningkatan antibodi akibat infeksi bakteri Streptococcus grup A. Sementara pemeriksaan jantung dilakukan untuk menilai apakah ada kelainan, seperti suara jantung abnormal atau pembesaran organ yang bisa mengindikasikan peradangan.
Bagi anak yang pernah mengalami demam rematik, kontrol rutin setiap 3–4 minggu sangat disarankan. Tujuannya agar dokter dapat memantau kondisi dan mencegah kekambuhan. Selain itu, orangtua bisa meminta surat keterangan medis dari rumah sakit untuk sekolah, agar aktivitas fisik anak dapat disesuaikan. Misalnya, anak dianjurkan menghindari olahraga berat atau naik tangga berlebihan.
Rizky juga menekankan pentingnya kerja sama antara orangtua, guru, dan tenaga medis dalam mendukung pemulihan anak. Dengan komunikasi yang baik, anak tetap bisa bersekolah tanpa membahayakan kesehatannya.
Menurut data WHO 2024, demam rematik masih menjadi penyebab utama penyakit jantung pada anak di negara berkembang. Karena itu, deteksi dini dan pemantauan rutin menjadi kunci utama dalam melindungi kesehatan jantung anak di masa depan.
Baca Juga : “Rambut Sehat dan Tebal: Simak Cara Efektif Cegah Rontok“




Leave a Reply